Refleksi Mulanya Ilmu dan Amal




Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad.

_Tirakatnya orang tidak tahu adalah belajar, tirakatnya orang ilmu adalah amal._ (SB Al-Fihri)

Kami hantarkan anak ideologis kami ke depan maktabah dan maqbaroh Sayyidina ‘Abdullah Bin Abbas. Salah satu sahabat rujukan keilmuan setelah Nabi Muhammad wafat sekaligus sepupu beliau.

Sebagaimana kalimat yang kami sampaikan di awal, Bapak juga pernah dawuh. “Jangan jadi orang pinter, agar tidak minteri. Jadilah orang ngerti agar ngertiin. Orang korupsi itu bukan tidak pinter, mereka punya gelar yang berentet. Tetapi, mereka tidak mengerti kalau mengambil hak orang lain itu dholim.”

Selain dalam konteks politik, kami telah melihat banyak kedholiman moral yang didatangkan oleh orang-orang yang justru mengerti ilmunya. Beberapa kali, air mata terjatuh sebabnya, selain karena kedholiman tersebut, kami selalu takut menjadi bagian dari mereka. Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua.

Sejak saat itu, kami tahu, bahwa ilmu saja tidak cukup. Kita perlu terampil dalam mengamalkannya. Dan keterampilan tersebut dimulai dari hati. Jika Pak Pram mengatakan seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. Beliau lupa, bahwa penggerak pikiran dan perbuatan adalah hati. Ia adalah raja dari panglima yang disebut otak. Sebagaimana Imam Al-Ghazali dawuh “Hati adalah raja dalam tubuh manusia yang mengatur akal dan nafsu.” Maka, seorang terpelajar harus mampu berbuat adil sejak dalam perasaan, apalagi dalam pikiran dan perbuatan. 

Tersebab itulah, kami memahami nasehat Bapak bahwa kepintaran letaknya ada di akal, sedangkan pengertian terletak dalam hati. In Syaa Allah, jika kita memahami mulanya, maka akan selamat muaranya. Semoga Allah takdir kita semua menjadi alim yang amil. Alhamdulillah.

Mekkah, 10 Juni 2026

Posting Komentar

0 Komentar