ABDI SANG OTORITAS TERTINGGI

 

Anggaplah ini hanya sebuah catatan mimpi seorang yang sedang di ambang pintu putus asa. Suatu malam, dia menutup hari dengan berbagai soal dunia yang entah dari mana asalnya dan akan seperti apa ujungnya. Pagi hari, dia terbangun dengan memikirkan hal yang sama. Padahal, sudah terlahir banyak orang pintar dan ahli di bidangnya, lalu bagaimana bisa masalah menjadi suatu yang sulit sekali diselesaikan. Seperti sedang berusaha memotong tulang dengan bagian pisau yang tumpul. Entah, mereka dengan sengaja menggunakan bagian yang tumpul atau memang hal itu di luar jangkauan pengetahuannya. Tapi, lagi-lagi mereka adalah orang berilmu sebagaimana banyak orang tahu.

Apakah semua itu terjadi sesederhana dari sebuah belajar dan pembelajaran yang disorientasi? Akhirnya, di pagi lain hari, dia membuka mata dengan sebuah jawaban ‘seharusnya belajar dan pembelajaran berakhir pada sebuah pengabdian.’ Pengabdian yang tidak terbatas pada institusi dan pribadi (diri sendiri maupun orang lain). Dia tidak mengabdi kepada sistem maupun manusia, ia mengabdi kepada Dia yang memiliki otoritas tertinggi. Sedangkan sistem (jam’iyyah) dan manusia (jamaah) adalah media manifestasi pengabdian. Pada gilirannya, kita terhindar menjadi penyembah sistem maupun manusia. Kedholiman tidak ada ukuran pemakluman, siapapun dia, sedalam apapun ilmunya, setinggi apapun status sosialnya, sebanyak apapun hartanya, wajib kita perangi.

Apalah yang kemudian menjadikan manusia berharga? Adalah bagaimana ia mampu menghargai, menghormati, dan menyayangi orang lain. Sedangkan ketiga ukuran yang dilebihkan dalam diri manusia: ilmu, status, kekayaan, seharusnya disadari sebagai instrument untuk suksesi menjadi pribadi yang penuh penghormatan dan kasih sayang. Bukan sesuatu yang justru merasa menjadikan diri lebih tinggi dari orang lain, melahirkan rasa kesombongan. Apabila penyakit ini menjangkit hati manusia, maka dia cenderung menghalalkan segala cara untuk mempertahankan bahkan melanggengkan posisinya. Termasuk menjadi hamba sistem dan manusia.

Lalu, bagaimana seharusnya sebuah pengabdian? Ia tidak diukur dari seberapa besar perubahan yang dapat dilakukan, melainkan seberapa ideal dan fundamental kesadaran yang termanifestasi dalam tindakan. Suatu sore, sang pemimpi ini berjalan di pinggiran kota, ia menjumpai seorang pemuda sedang asyik membaca buku dengan secangkir kopi di depannya. Tepat di samping pemuda tersebut, terdapat ibu tua sedang berusaha menghidupkan motor supra yang dikendarainya. Sesekali ibu tersebut terlihat berbicara ke arah sang pemuda. Alih-alih menghampiri sang ibu, pemimpi ini justru bertanya kepada pemuda itu. “Kenapa ibu itu, Mas?” Dia menjawab malas, sedang pandangan tetap ke arah buku. “Itu, minta tolong ngidupin sepedanya, sudah dibilang saya tidak bisa.” Tanpa menimpali keterangan sang pemuda, pemimpi tersebut langsung menghampiri ibu yang masih terus berusaha menghidupkan sepedanya. “Biar saya bantu, Bu.” Hanya dalam dua kali pancalan (menstarter motor secara manual), sepeda motor hidup kembali. Senyum sumringah sontak menghiasi bibir yang sudah tampak keriputnya, “Terima kasih, Nduk.” Sang pemimpi terus berjalan menyusuri jalan setapak di sepanjang pinggiran kota, sejak peristiwa itu, ia terus merapalkan kalimat ‘luasnya pengetahuan seharusnya untuk memperhalus perasaan.’ Inilah pengabdian, ia tidak banyak dinarasikan tetapi bersumber dari hal yang fundamental dan memiliki tujuan lebih dari sekadar pengakuan, yaitu ridho Tuhan.

Selang bertahun lamanya, pemimpi ini kembali menjumpai manusia serupa. Manusia yang tampak cerdas dalam dialektika. Dia bahkan dikagumi banyak manusia lainnya, pribadi yang suka mendalami ilmu dan menyampaikan kebenaran dari penelusuran yang dilakukan. Namun, ilmu pengetahuannya kemudian diuji dalam situasi yang tampak sederhana sekali. Situasi ini diamati oleh pemimpi dari balik tabir yang sangat jauh sekali, bisa jadi dia bukan bagian dari peristiwa yang sedang berlangsung. “Saya terjatuh tadi, tangan keseleo, boleh bantu oleskan minyak urut?” Salah satu teman manusia cerdas ini meminta tolong. “Maaf, saya tidak bisa.” Manusia cerdas merespon dengan begitu singkat. Sedangkan teman yang meminta tolong tampak menjauh dengan raut wajah yang kelihatan malu sekali. Sang pemimpi dari masa yang tidak terjangkau, menepuk jidat seraya bergumam, “Allah, apa susahnya mengoleskan minyak urut, apa tidak lebih susah mencari tahu sesuatu dari banyak tumpukan buku? Mungkin otaknya mampu, tetapi hatinya belum diberikan kemampuan.”

Kali ini, sang pemimpi tidak lagi menyusuri jalan setapak, dia sedang menyusuri lorong waktu. Sambil terus bermimpi akan selalu lahir manusia yang luas pengetahuan, halus perasaan, dan tegas tindakan. Sebab, justru pengabdian tanpa pengakuan, pengabdian tanpa aturan yang formal, sangat lepas dari jangkauan. Menginstitusikan pengabdian dalam sebuah sistem maupun seorang manusia, justru mempersempit definisi dan jangkauan pengabdian itu sendiri. Karena itu, sang pemimpi ini memutuskan untuk belajar tidak mengabdi kepada sistem maupun manusia, melainkan menaruh abdi kepada Sang Pemilik Otoritas Tertinggi, Allah. Laa haula waa laa quwwata illa billah.

Posting Komentar

0 Komentar