Citra Sosial Aktivis Perempuan


Tidak bisa diatur, anti domestik, suka ngebangkang, tidak bisa dikendalikan. Uraian ini berawal dari pertanyaan adik-adik persoalan. "Kenapa, sih, Mbak, laki-laki itu cenderung memilih perempuan pendiam? Bahkan senior kita, mereka membentuk kita sedemikian rupa. Tapi, pada akhirnya lebih memilih yang lain sebagai pendamping hidup mereka, yang notabenya kebalikan dari karakter kita."

Aku jawab pelan-pelan supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman. Pertama, sebagai perempuan yang mandiri secara pemikiran dan tindakan. Kita harus tumbuh dengan basis kesadaran bahwa proses dan jalan yang kita pilih bukan karena dan untuk laki-laki. Tetapi, karena kita merasa butuh. Sehingga ketika kita lahir sebagai siapa dan apapun, kita tidak pernah menjadikan laki-laki sebagai ukuran keberhasilan.

Kedua, perlahan memang kita perlu menggeser cara pandang masyarakat terhadap aktivis perempuan. Penilaian mereka susah diatur, harus digeser bahwa mereka hanya butuh ruang diskusi. Mereka bukan anti domestik, tetapi hanya butuh sinergi dan kolaborasi dalam segala aspek kehidupan. Namun, perempuan sebagai manusia yang memiliki kapasitas berpikir memang tidak untuk dikendalikan.



Selama ini, kita melangkah yakin meski banyak yang meragukan, menyepelekan dan bahkan mempertanyakan. Jika pun tidak kuat motivasi dan tujuan, mungkin kami adalah salah satu yang gugur di medan pertempuran.

Begini, dalam narasi ini kami hendak menyampaikan bahwa aktivis perempuan bukan manusia anti domestik. Kadangkala, di antara mereka memang tidak cukup waktu menyentuh ruang ini. Sehingga perlu beberapa toleransi dari lingkungan sosialnya. Tetapi, bagiku, kondisi seperti ini tidak patut jika dijadikan tolak ukur kualitas kemanusiaannya sebagai perempuan. Terkadang, konsep yang kita anggap seharusnya, tidak ideal untuk kehidupan mereka yang tidak seberuntung kita. Mereka yang harus jadi single mom, kakak kepala rumah tangga. Memiliki konsep hidup idealnya sendiri hanya demi sesuap nasi.

Jika pun, masih ada perempuan yang bisa menyeimbangkan domestik dan publik. Itu juga karena pilihannya. Inilah karakter sesungguhnya aktivis perempuan. Dia memilih dengan merdeka, dan tidak berharap validasi dari siapa saja. Mau ruang domestik atau publik, mereka jangkau dengan suka rela dan kesadaran penuh menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Karena bagiku, mereka disebut aktivis bukan sebab banyaknya aktifitas, melainkan ketetapan tujuan untuk kemaslahatan banyak orang.

Kalau sudah demikian, akankah kita masih dipertanyakan? Lalu, apa yang menjadi alasan laki-laki menjustifikasi kita dengan citra sosial yang ku sebut di awal? Jika bisa berjalan bersama, lalu kenapa harus ada yang ditinggal? Apakah mereka lupa, bahwa masalah ketidakadilan sosial dan kemanusiaan adalah catatan kita bersama?



Hal yang membikin aku miris adalah ketika pandangan ini juga hadir dari seorang aktivis laki-laki. Mereka ingin berjalan bermakna dengan meninggalkan istri di rumah saja. Terkadang, aku sangat mengapresiasi kehidupan Ning Imaz dan Gus Rifqil. Beliau berdua adalah sosok pasangan yang mengerti agama tetapi sangat tahu bagaimana berelasi dalam kehidupan rumah tangga. Saling menghargai dan membersamai proses abdi dan juang kepada ummat. Konsensus apapun yang mendasari hubungan beliau berdua, tentu telah membuat iri sebagian perempuan di dunia.

Semoga kita bagian dari mereka yang terpilih.

Posting Komentar

0 Komentar