TINGKATAN PEMIKIRAN PEREMPUAN

 


Disebutkan oleh Ir. Soekarno dalam Sarinah (2014) bahwa pergerakan perempuan ada tiga tingkatan.

Pertama, tingkatan menyempurnakan keperempuanannya. Disebut demikian, karena pada tingkatan ini perempuan hanya peduli bagaimana caranya mempercantik diri. Menjadi ibu dan istri yang baik. Lihai dan terampil dalam urusan rumah tangga. 

Kedua, disebut pergerakan feminis atau emansipasi wanita. Wujud pergerakannya adalah menuntut persamaan hak dengan laki-laki. Sama dalam memperoleh lapangan pekerjaan dan hak pemilihan. Pergerakan ini lebih banyak hadir dari kalangan perempuan borjuis daripada proletar. Sebab, sejak awal  perekonomian beralih para proses perindustrian perempuan proletar sudah bisa bekerja di pabrik-pabrik sebagai buruh. Beda dengan perempuan borjuis yang lebih banyak berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun. Hal ini terjadi karena kebiasaan menjahit mereka untuk mengisi waktu luang di rumah sudah tergantikan oleh mesin. Dan apapun yang mereka butuhkan sudah mampu terbelikan. Kondisi ini membuat mereka bosen dan menuntut perolehan akses lapangan pekerjaan. 

Ketiga, gerakan perempuan sosialis. Daripada memperhatikan persamaan hak laki-laki dan perempuan, sehingga bersifat menentang kepada kaum laki-laki. Pergerakan ini justru mengindahkan adanya sinergi dan kolaborasi antara kedua manusia itu. Laki-laki dan perempuan saling bahu membahu untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan menghapus masyarakat kapitalis yang di dalamnya ada penindasan kelas.

Jika direfleksikan kembali, tiga tingkatan itu tidak hanya terjadi dalam struktur sosial tertentu dari masa ke masa. Tetapi juga dialami oleh setiap individu dalam masa pertumbuhan pemikiran. 

Seseorang lebih dulu memperhatikan kelayakannya sebagai manusia yang kodratnya terlahir sebagai laki-laki maupun perempuan. Segala hal dilakukan untuk memenuhi kelayakan kodrat tersebut. Meskipun usaha itu sebenarnya tidak mampu mengukur kelayakan secara general. 

Karena itu, tahapan pemikiran kedua muncul. Bahwa skill di dunia publik, pengakuan-pengakuan dirinya sebagai manusia perlu mendapatkan akses yang sama. Mereka menganggap dirinya terbelakang sehingga menuntut persamaan, agar sama-sama memperoleh kemajuan. Tetapi, ternyata setelah masalah diri mereka selesai. Terpenuhi semua tuntutan atas kesejahteraan dirinya. 

Barulah mereka akan sadar bahwa ternyata keterbelakangan itu bukan hanya milik jenis kelamin perempuan, atau sebaliknya. Ada penindasan yang disebabkan oleh kelas, oleh kelompok-kelompok superior yang sasaran mereka tidak memilih jenis kelamin. Sebab itulah, mereka, kaum perempuan yang mencapai tingkat pemikiran ini, tidak lagi sensi dengan laki-laki. Justru akan terus berupaya menciptakan ruang-ruang sinergi dan kolaborasi demi mewujudkan cita-cita yang sama. Keadilan dan Kemanusiaan. 

Sekarang pertanyaannya, sudah di tingkat pemikiran manakah kalian?


Catatan, SB. 

01 September 2022


Posting Komentar

0 Komentar