~Surat cinta untuk kamu yang sudah dan akan ambil peran.~

Pada suatu malam yang masih basah, rerumputan kegirangan peroleh kesegaran begitu lama. Namun, lain halnya dengan manusia. Beberapa dari mereka sedih karena harus urungkan kegiatan dan terpaksa bersembunyi di balik selimut tebal. Sebab, hujan kala itu 'tak hanya jatuhkan air tetapi membuat badan dingin, sampai pada bagian tulang terkecil. 

Sebagian banyak memilih begitu, tetapi beda  dengan 3 orang aktifis ini. Mereka terjang hujan bersama air dan dinginnya malam. Dua datang terlebih dahulu, kemudian satu menyusul sendirian dalam keadaan sandang basah semua. Lebih basah, karena jarak yang dia tempuh lebih jauh. 

Obrolan dimulai, dari hal yang paling lucu hingga serius. Tertawa dan tegang saat mencoba melucuti kesalahan kita masing-masing. Sengaja kuundang mereka ke gubuk peninggalan almarhumah Ibu ini untuk bersama-sama refleksi. Untuk menyamakan pikir atas kondisi yang kubilang "telah banyak kemunduran." Meski mereka yang bertanggung jawab atas ini, karena sedang berada di tambuk kekuasaan, tidak sekalipun mengelak. Justru mengamini  apa yang aku sampaikan. Berkali kubilang "kita mengalami kemunduran." Mereka sadar tetapi masih mencoba melakukan pembelaan. 

Layaknya orang yang dituakan, ketika sudah 'tak mempan dielu-elukan maka cara terakhir adalah disumpah serapahi, bahasa yang berkembang di kalangan kita adalah "dipisuhi."

Setelah menyebutkan semua masalah, kita coba cari solusi, kemudian dengan begitu optimisnya kita percayakan kepada salah satu dari mereka untuk memperbaiki. Sebab, setelah ini adalah masanya untuk berlaga, berkreasi, dan berinovasi. Mungkin akan lebih berat, karena "kita mengalami kemunduran", harus menghidupkan kembali yang sudah mati, kembali dari awal. Ini alasan kenapa ketika kita ingin ambil peran harus "selesai dengan diri sendiri". Sebab, sekali saja kita nggak becus, kita lalai, kita nggak mau bangkit ketika jatuh justru malah makin terpuruk, yang merugi adalah bukan hanya diri kita sendiri. Lebih luas dan lebih banyak korban. Karena mereka 'tak peroleh fasilitas dari tuan dan puan yang sudah mereka percaya. 

Tidak perlu malu menyadari kesalahan dan kekurangan, sampaikan dan meminta bimbingan orang-orang yang lebih dulu berpengalaman adalah satu langkah yang bijak dan manusiawi. Sebab, bagaimanapun, seorang ahli nggak tiba-tiba jadi ahli, pasti juga mengalami proses yang 'tak biasa. Mainset di mana kita "harus selalu perfect" suatu waktu juga akan menjadi bumerang bagi kita. Kita cenderung menyimpan semua sendiri, pada waktu yang sudah 'tak mumpuni, maka itu akan meledak lebih besar masalahnya. Bentuklah lingkungan yang bisa membangun support system. Agar bisa mengingatkanmu untuk bangkit meski berkali-kali terjatuh. 

Dua di antara tiga aktifis ini adalah perempuan. Satu perempuan sedang menyadari kesalahan, satu perempuannya lagi sedang mencari formula untuk memperbaiki kesalahan di masa mendatang. Kesadaran salah itu justru membuatku sesekali hilang kendali dan meloloskan kata yang kasar. Tetapi, dia masih menerima, dan menitipkan salah itu kepada si perempuan generasi mendatang agar tidak diteruskan. Ini ciri orang bijak. 

Malam semakin larut, tapi hujan 'tak sekalipun mundur untuk 'tak basahi bumi. Sedang, perempuan yang sedang berada di tambuk kuasa itu, yang beberapa jam ini sudah kucaci maki, harus segera undur diri. Karena tanggungan di rumah sedang menanti. Dia membawa jas hujan, jadi dia kekeh memutuskan pergi. 

Aku antar dia ke depan rumah, menuju sepedanya, kutunggui dia memakai jas hujan. Drama perasaan dimulai. Bagaimanapun, semarah-marahnya aku, itu sekalipun 'tak disertai benci. Tapi, kutakut untuk bilang itu cinta, biar mereka saja yang merasa. Yang jelas aku bukan benci, sehingga di luar kesadaran kupeluk dia. "Maafkan Mbak Bella belum becus ngawal kamu selama ini, Mbak Bella juga salah." Kuloloskan semua kasih sayang ini dengan mecium kedua pipinya, sekali lagi. Ciuman terakhir, dia bersamai dengan air matanya. Ya, dia menangis. "Kemarin malam aku disayang Ibu dalam mimpi, Mbak." Dia terus menangis dan menyesali karena ciumanku mengingatkan dia pada Ibu. Dia berada pada kondisi yang sama denganku. Belum lama ini ditinggal pulang Ibu. 

Aku hanya bisa mengambil nafas panjang. Hem, begitu kompleksnya masalah perempuan. Tetapi, pada masa kemaharan dan tempramentalku sebab kondisi yang 'tak  kamu upayakan. Mbak Bella tetap bangga ke kamu, telah berani mencoba maju dan sempat berkreasi di awal. Meski kau sendiri sadari nggak bakal khusnul khotimah. Setidaknya lagi, kau sadar konsekuensi yang  bakal diterima di akhir dan kamu siap atas itu. Terima kasih, ya, dan mohon maaf. 

SB, Dari Balik Tabir Puan. 


Posting Komentar

0 Komentar