MU’AISYIM, TANAH CINTA SANG GURU

Suatu tahun, sebelum kami terpanggil khidmah di STAI RAYA, kami membersamai kakak pertama sowan kepada Alm. Syaikhina Syamsul ‘Arifin ‘Abdullah. Beliau menemui kami dalam keadaan kurang sehat, badan semakin kurus, tetapi beliau tetap sumringah dan mengobrol dengan kakak. Di sela-sela obrolan beliau berdua kami justru menyembunyikan muka dan menggulirkan air mata. Saat itu, kami ada rasa takut kehilangan beliau, spontan kami rapalkan doa dalam tangis yang tersembunyi, “Panjangkan umur guru kami, ya, Allah. Kami belum siap ditinggal beliau.”

Kami pun heran, bagaimana bisa rasa itu ada dan air mata keluar dengan suka rela. Mengingat kami santri yang tidak begitu mengenal beliau, kami menjadi santri mukim hanya 2 tahun, bukan abdi dhalem, setelah itu kami tidak terhubung secara dhohir dengan pesantren, kami melanjutkan pendidikan di luar. Sejak saat itu, kami percaya bahwa cinta dapat senantiasa tumbuh bukan hanya dalam temu, melainkan dalam rapalan doa. 

Beberapa tahun kemudian, kami terpanggil khidmah di STAI RAYA, mula kami terhubung secara dhohir. Semakin kami melihat ilmu itu, bukan sekedar dari tutur kata, melainkan dari sikap. Guru kami, memberikan kami contoh, beliau tidak pernah membeda-bedakan kami, beliau sabar, penuh kasih sayang, menerima kekurangan, bahkan membersamai penyelesaian problem kehidupan. Lebih dari seorang guru, beliau sejatinya orang tua kedua kami.

Suatu malam kami sedang mabit di pesantren, diperintah kakak untuk sowan mengizinkan ponakan pulang. Kami seorang diri menghadap Kiai dan Nyai. Kiai bertanya, “Mak kedibik.en?”

“Aenggi, Kiai, kebetulan abdinah sedang mabit.”

“Owch, rajeh genjernah reng mabit ruah, meninggalkan keluarga di rumah,” dawuh beliau. Seperti biasa, selain menghaturkan tujuan sowan, kami sempatkan untuk meminta barokah beliau tentang pendidikan yang sedang kami jalani.

Pagi hari setelah mabit kami lanjut mengajar di STAI RAYA hingga siang hari. Kami pergi ke lingkungan pesantren lagi untuk mengambil barang yang tertinggal. Tidak sengaja kami berjumpa kembali dengan Syaikhina, beliau menyapa. “Loh, kok, belum pulang?”

“Aenggi, Kiai, abdinah lanjut kegiatan di STAI RAYA.”

“Owch iya-iya, buku dan pulpen saya ketinggalan di atas.” Dawuh beliau seraya menunjuk ke arah aula atas pesantren.

“Abdinah ambilkan, Kiai.”

“Tidak usah, saya ambil sendiri sekalian olahraga.” Dawuh beliau seraya berlalu dengan senyum mengembang.

Senyum itu hingga perjalanan pulang ke rumah selalu teriang, ada kebahagiaan tersendiri dalam hati yang tidak terdefinisi, bahkan kami memegang kemudi seraya senyum-senyum sendiri. Terasa hangat, mungkin itu adalah hal yang sederhana, tetapi berbeda bila ditampilkan dengan rasa cinta. Kami sendiri mengalami, dalam hal merawat kaderisasi, kami yakin, jika tanpa cinta, semua akan menemukan ujungnya sudah sejak lama. Kami bertahan, karena cinta terhadap mereka, adik-adik organisasi kami.

Soal pasangan, beliau juga pernah menanyakan kepada kami. Bagaimana cara kami mengupayakan pasangan itu datang. Namun, tidak sama dengan yang lainnya, beliau bertanya dengan hati-hati, seperti ada upaya untuk menjaga perasaan kami. Di saat itu, kami juga tahu, ternyata beliau juga memikirkan dan mengkhawatirkan sisi yang kurang dari diri kami. Duh, Kiai, bagaimana mungkin ada sosok yang dapat menggantikan ajunan di hati kami. Kegagalan kami dalam soal ini, juga sering mengingatkan kami terhadap kekhawatiran beliau dan Almh. Ibu. Tapi, kami selalu yakin ridho dan barokah beliau berdua yang akan menghantarkan laki-laki itu di hadapan kami. Bagaimana bisa kami mengkerdilkan diri jika yang membersamai adalah ridho dan barokah manusia yang mulia.

Soal pasangan beliau juga pernah dawuh, “Suami istri itu layaknya timbangan. Keduanya harus saling. Seorang suami harus bertambah kasih sayang terhadap istri agar istri bertambah hormat terhadapnya. Begitu pula seorang istri, harus bertambah hormat terhadap suami, agar suami bertambah kasih sayang terhadapnya.” 

Namun, hal yang kami takutkan, akhirnya sampai untuk dihadapi. Saat mendengar beliau terbaring sakit di Mekkah, kami selalu pulang dari kampus dengan air mata yang tak tertahan. Dalam hati dan pikir kami bertanya-tanya, “Apakah ajunan tidak akan kembali, Kiai? Tolong kembali, kami belum siap.” Begitu terus kalimatnya, tidak ada kesiapan dalam hal ditinggalkan. Tidak ada, kami tahu itu, tapi untuk saat ini kami ingin egois, kami ingin memaksa Tuhan. Tapi, manusia hanya punya harapan, Tuhan punya bukan ketentuan. Pagi itu, menjadi pagi yang panjang. Bustanul Ulum, diselimuti air mata para pencinta.

Banyak sekali moment yang tidak pernah kami inginkan hilang dari memori. Kami ingin merawatnya bersama rindu yang terus bertumbuh. Sebab, rindu itu salah satu modal kami bertahan atas segala kesusahan, bahkan dalam konteks pengabdian di STAI RAYA. 

Tahun lalu beliau berpulang, tahun ini kami ditakdir ziarah maqbaroh beliau, Mu’aisyim, ada sebagian cinta guru sekaligus orang tua di dalamnya. Seperti layar yang memutar kembali memori. Setiap kenang adalah indah sekaligus mengundang air mata. Kami matur segala hal yang kami harapkan, kami matur sesuatu yang beliau khawatirkan, bersamanya kami memohon barokah dan ridho beliau. Kami matur, agar kami pulang untuk kembali ziarah terhadap beliau. 

Duh, Mu’aisyim, kami titipkan cinta ini di tanahmu.   Saat rindu membuncah, bukalah gerbangmu untuk kami menemui sang guru.

Mekkah, 13 Juni 2026

SB Al-Fihri

Posting Komentar

0 Komentar